Kisah Rumah Makan Gratis di Gunung Putri Milik Aditya

Kisah Rumah Makan Gratis
Kisah Rumah Makan Gratis di Gunung Putri Milik Aditya

Kisah Rumah Makan Gratis – Rumah makan milik Aditya Prayogi, warga Gunung Putri Kabupaten Bogor berbeda dari yang biasa. Dari tulisan di spanduk yang terpampang sudah ketahuan ‘makan minum gratis setiap hari tanpa syarat’. Lo bagaimana ceritanya?

Adit, panggilannya, membuka usaha rumah makan di Jalan Raya Ciangsana Nomor 01 Depan Ruko Orange, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Selalu ramai pengunjung. Jajaran kotak berisi sejumlah menu disajikan di warungnya secara gratis bagi siapa saja yang datang.

Adit sudah sangat dikenal di lingkungannya. Wajahnya juga beberapa kali muncul di layar kaca, karena aksinya yang terbilang langka. Jika biasanya banyak pengusaha berlomba lomba membuka usaha dengan mematok harga tetentu, beda halnya dengan Adit.

Kisah Rumah Makan Gratis

Di usaha rumah makan yang telah berdiri sejak 2016, Adit justru mengoperasikannya secara gratis. Tak heran, saat mendatangi lokasinya, terlihat pengujung datang silih berganti.

Ada pemulung, sopir angkot, atau warga sekitar yang mendatangi tempat itu. Namun, tak sedikit pula donatur yang sengaja ke rumah makan itu untuk membantu pemasukan Adit. Bahkan sejumlah komunitas asal Bekasi, Jonggol, dan Cileungsi rela menempuh jarak demi melihat secara langsung rumah makan gratis tersebut.

“Saya bersama rekan-rekan sengaja datang jauh-jauh untuk melihat secara langsung, dan menikmati sensasi makan di warung gratis ini,” beber Yuni (30) warga asal Bantar Gebang.

Yuni mengaku, dirinya mengetahui warung tersebut usai menyaksikan salah satu program di stasiun tv nasional. Penasaran dengan keberadaan warung tersebut, Yuni pun langsung mengajak sejumlah rekannya, untuk langsung menyambangi lokasi. Menurutnya, dirinya sangat senang bisa datang ketempat yang tengah menjadi buah bibir di kalangan warganet.

Ditemui di warung miliknya, pemilik Rumah Makan Gratis menceritakan soal awal mula hadirnya RMG di tengah warga. Adit mengatakan, ini tak lepas dari pertemuannya dengan seorang nenek berusia 92 tahun yang berjalan pincang. Saat itu hatinya tergugah untuk mencari tahu latar belakang sang nenek yang rupanya setiap hari menghabiskan waktunya menjadi pemulung demi sesuap nasi.

Comments closed