Tak punya kehidupan sosial, adakah Keuntungnya?

Tak punya kehidupan sosial, adakah Keuntungnya?
Tak punya kehidupan sosial, adakah Keuntungnya?

Selama lebih dari sebulan, saya menjauhi pergaulan dengan teman-teman untuk mengukur bagaimana dampaknya terhadap produktivitas kerja. Hasilnya mengejutkan.

Kiat menjadi sukses, boleh jadi, sederhana.

Dari pengalaman saya mewawancarai seniman, penulis, dan pengusaha kreatif yang sukses, saat mereka ditanya mengapa mereka bisa begitu produktif umumnya mereka menjawab karena tidak punya kehidupan sosial.

Saatnya sukses
Saya seorang pekerja lepas yang bekerja dari rumah sendirian, di saat teman-teman serumah berangkat ke kantor. Saya selalu saja mencari pembenaran bahwa punya kehidupan sosial yang aktif adalah kebutuhan dasar manusia. Tapi, kemudian saya menghitung banyak sekali waktu terbuang hanya untuk bergaul. Di situ saya sadar, mungkin gaya hidup saya sudah kelewat ekstrem.

Kalau dihitung-hitung, rata-rata 22 jam dalam seminggu saya habiskan untuk bersosialisasi. Untuk melihat dampak pergaulan terhadap hasil kerja, kesehatan, dan kesejahteraan saya, maka saya coba memutus kehidupan sosial.

Sebab saya juga sadar, kadang-kadang saya sibuk berusaha mengisi waktu luang cuma demi eksistensi atau yang dikenal juga dengan istilah fear of missing out (FOMO). Saya tidak mampu menolak ajakan teman, tapi juga memakainya untuk alasan menunda pekerjaan atau mengalihkan fokus dari tugas yang harusnya diselesaikan.

Sebulan saya menjauhi pergaulan, acara minum-minum dengan teman, nongkrong sambil minum kopi, makan malam, pesta, dan berbagai kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Saya ingin melihat apakah menjauhi pergaulan saya jadi bisa lebih produktif, lebih fokus, dan punya prospek karier yang lebih baik.

30 hari sesudahnya
Di hari pertama eksperimen sebulan tersebut dimulai, beberapa kali kecemasan luar biasa menyergap, khususnya cemas dengan eksistensi. Menurut saya, kadang-kadang FOMO berakar dari banyaknya pilihan yang kita miliki. Sebab banyak sekali kegiatan menarik yang bisa dipilih di Sabtu malam, lalu bagaimana kita tahu keputusan mana yang tepat?

Seiring berjalannya waktu, kecemasan soal eksistensi surut dan saya pun bisa lebih santai. Di malam minggu, agenda saya cuma satu yaitu tinggal di rumah.

Dengan pilihan yang terbatas saya jadi puas dengan keputusan yang saya ambil. Biasanya saya suka marah-marah sendiri kalau tidak keluar rumah Jumat malam atau saat harus pergi meninggalkan acara lebih cepat, tapi selama eksperimen ini berlangsung saya puas-puas saja bekerja, membaca, nonton Netflix, ketimbang memikirkan acara yang saya lewatkan.

Punya jadwal yang bebas dan menyenangkan juga akan membuat kita bisa ‘mengerjakan sesuatu secara lebih mendalam’ (hal yang menurut profesor ilmu komputer, Cal Newport, yang membuat kita mampu tetap fokus pada pekerjaan yang melibatkan kognisi tanpa terpengaruh dengan gangguan).

Tidak lagi memikirkan hal menyenangkan yang seharusnya dilakukan atau acara bersama teman yang terlewat membuat saya bisa berkonsentrasi dengan baik, tetap fokus pada pekerjaan, tanpa diganggu oleh tuntutan bersosialisasi dengan orang lain. Jumat malam, saya bisa menyelesaikan urusan kantor atau Sabtu pagi saya bisa duduk menulis di kafe.

Comments closed